Memuat konten...

Panduan Lengkap Shalat Sunnah Harian: Niat, Tata Cara, Bacaan Latin Dan Artinya

Panduan Lengkap Shalat Sunnah Harian: Niat, Tata Cara, Bacaan Latin Dan Artinya

Daftar Isi

Shalat sunnah merupakan ibadah nawafil (tambahan) yang berfungsi sebagai penyempurna kekurangan pada shalat fardhu lima waktu. Rasulullah SAW bersabda bahwa amalan yang pertama kali dihisab adalah shalat, dan Allah akan memerintahkan malaikat untuk melihat apakah hamba-Nya memiliki amalan sunnah untuk menyempurnakan shalat wajibnya (HR. Abu Dawud).

Secara teknis gerakan dan bacaan rukun, shalat sunnah sama persis dengan shalat wajib. Perbedaan mendasar hanya terletak pada niat, penentuan waktu, dan jumlah rakaat. Dalam kajian fiqih Mazhab Syafii, melafazkan frasa mustaqbilal qiblati (menghadap kiblat) saat niat hukumnya sunnah (keutamaan) untuk memantapkan hati, dan tidak menjadi syarat sah shalat.

Berikut adalah panduan 11 shalat sunnah harian yang paling utama disertai rujukan fiqih yang akurat.


1. Shalat Sunnah Rawatib (Mu’akkad)

Shalat yang mengiringi shalat fardhu. Berdasarkan riwayat Ibnu Umar, shalat Rawatib yang sangat dianjurkan (Mu’akkad) berjumlah 10 rakaat (atau 12 rakaat dalam riwayat Ummu Habibah).

a. Qobliyah Subuh (2 Rakaat) – Paling Utama

  • Lafaz Niat: أُصَلِّي سُنَّةَ الصُّبْحِ رَكْعَتَيْنِ قَبْلِيَّةً لِلَّهِ تَعَالَى Ushallii sunnatash-shubhi rak’ataini qabliyyatan lillaahi ta’aalaa. (Artinya: “Aku berniat shalat sunnah sebelum Subuh dua rakaat karena Allah Ta’ala.”)
  • Keutamaan: Lebih baik dari dunia dan seisinya (HR. Muslim).
  • Surat Anjuran: Rakaat pertama membaca Al-Kafirun, rakaat kedua membaca Al-Ikhlas (HR. Muslim).

b. Niat Rawatib Mu’akkad Lainnya:

  • Qobliyah Dzuhur: Ushallii sunnatadz-zhuhri rak’ataini qabliyyatan lillaahi ta’aalaa.
  • Ba’diyah Dzuhur: Ushallii sunnatadz-zhuhri rak’ataini ba’diyyatan lillaahi ta’aalaa.
  • Ba’diyah Maghrib: Ushallii sunnatal-maghribi rak’ataini ba’diyyatan lillaahi ta’aalaa.
  • Ba’diyah Isya: Ushallii sunnatal-‘isyaa’i rak’ataini ba’diyyatan lillaahi ta’aalaa.
Baca Juga Info (religi)

Bacaan Ayat Kursi Lengkap: Teks Arab, Latin, Arti, dan Keutamaannya

Ayat Kursi merupakan salah satu ayat paling monumental dalam Al-Qur’an. Berada pada surah Al-Baqarah ayat 2...

2. Shalat Tahajud

Shalat malam yang didirikan dengan syarat harus terbangun dari tidur terlebih dahulu, meskipun hanya tidur sebentar.

  • Waktu Terbaik: Sepertiga malam terakhir (sekitar jam 01.00 WIB hingga sebelum masuk waktu Subuh).
  • Lafaz Niat: أُصَلِّي سُنَّةَ التَّهَجُّدِ رَكْعَتَيْنِ لِلَّهِ تَعَالَى Ushallii sunnatat-tahajjudi rak’ataini lillaahi ta’aalaa.
  • Jumlah Rakaat: Minimal 2 rakaat, tidak ada batasan maksimal yang kaku, namun umumnya dikerjakan hingga 8 rakaat.
  • Rujukan Fiqih: Kitab Al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab menegaskan bahwa shalat malam baru dinamakan Tahajud jika dilakukan setelah tidur.

3. Shalat Witir

Witir adalah shalat dengan jumlah rakaat ganjil sebagai pemungkas atau penutup seluruh rangkaian shalat malam ibadah seorang muslim (HR. Bukhari & Muslim).

  • Lafaz Niat (3 Rakaat Sekaligus): أُصَلِّي سُنَّةَ الْوِتْرِ ثَلَاثَ رَكَعَاتٍ لِلَّهِ تَعَالَى Ushallii sunnatal-witri tsalaatsa raka’aatin lillaahi ta’aalaa.
  • Ketentuan Qunut: Dalam Mazhab Syafii, Doa Qunut pada shalat Witir hanya disunnahkan pada separuh akhir bulan Ramadhan (malam ke-16 hingga akhir), bukan di luar bulan Ramadhan.

4. Shalat Dhuha

Shalat sunnah yang dikerjakan saat matahari mulai naik setinggi satu tombak (sekitar 15 menit setelah matahari terbit) hingga sebelum waktu istiwa (matahari tepat di atas kepala menjelang Dzuhur).

  • Lafaz Niat: أُصَلِّي سُنَّةَ الضُّحَى رَكْعَتَيْنِ لِلَّهِ تَعَالَى Ushallii sunnatad-dhuhaa rak’ataini lillaahi ta’aalaa.
  • Jumlah Rakaat: Minimal 2 rakaat. Batasan maksimal menurut muktamad Mazhab Syafii adalah 8 rakaat (sebagian ulama membolehkan hingga 12 rakaat).

5. Shalat Hajat

Shalat sunnah yang didirikan secara khusus ketika seorang muslim memiliki kebutuhan mendesak (hajat), baik terkait kemaslahatan dunia maupun akhirat.

  • Lafaz Niat: أُصَلِّي سُنَّةَ الْحَاجَةِ رَكْعَتَيْنِ لِلَّهِ تَعَالَى Ushallii sunnatal-haajati rak’ataini lillaahi ta’aalaa.
  • Dasar Hukum: Bersumber dari hadits riwayat Imam Tirmidzi mengenai tata cara berwudhu, shalat dua rakaat, lalu memanjatkan doa hajat yang diajarkan Rasulullah SAW.

6. Shalat Taubat

Shalat dua rakaat yang didirikan dengan tujuan memohon ampunan secara tulus atas dosa atau maksiat yang telah diperbuat.

  • Lafaz Niat: أُصَلِّي سُنَّةَ التَّوْبَةِ رَكْعَتَيْنِ لِلَّهِ تَعَالَى Ushallii sunnatat-taubati rak’ataini lillaahi ta’aalaa.
  • Dasar Hukum: Didasarkan pada hadits shahih dari Ali bin Abi Thalib yang mendengar penuturan Abu Bakar Ash-Shiddiq, bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Tidaklah seorang hamba melakukan dosa, lalu ia bersuci dengan baik, kemudian berdiri untuk shalat dua rakaat, melainkan Allah akan mengampuninya.” (HR. Tirmidzi & Abu Dawud).

7. Shalat Istikharah

Shalat sunnah dua rakaat untuk memohon kelapangan hati dan petunjuk pilihan terbaik dari Allah SWT saat dihadapkan pada kebimbangan pilihan hidup.

  • Lafaz Niat: أُصَلِّي سُنَّةَ الْاِسْتِخَارَةِ رَكْعَتَيْنِ لِلَّهِ تَعَالَى Ushallii sunnatal-istikhaarati rak’ataini lillaahi ta’aalaa.
  • Dasar Hukum: Hadits riwayat Imam al-Bukhari dari Jabir bin Abdullah mengenai perintah Rasulullah untuk shalat dua rakaat non-fardhu sebelum membaca doa istikharah.

8. Shalat Tahiyatul Masjid

Shalat sunnah 2 rakaat sebagai bentuk penghormatan saat memasuki masjid, sebelum orang tersebut duduk.

  • Lafaz Niat: أُصَلِّي سُنَّةَ تَحِيَّةِ الْمَسْجِدِ رَكْعَتَيْنِ لِلَّهِ تَعَالَى Ushallii sunnata tahiyyatil-masjidi rak’ataini lillaahi ta’aalaa.
  • Dasar Hukum: Rasulullah SAW bersabda: “Jika salah seorang di antara kalian memasuki masjid, janganlah ia duduk sampai ia shalat dua rakaat.” (HR. Bukhari & Muslim).

9. Shalat Sunnah Wudhu

Shalat sunnah dua rakaat yang dikerjakan langsung setelah selesai melakukan wudhu.

  • Lafaz Niat: أُصَلِّي سُنَّةَ الْوُضُوْءِ رَكْعَتَيْنِ لِلَّهِ تَعَالَى Ushallii sunnatal-wudhuu’i rak’ataini lillaahi ta’aalaa.
  • Dasar Hukum: Hadits Bilal bin Rabah yang terompahnya terdengar di surga karena ia tidak pernah berwudhu melainkan langsung diikuti shalat dua rakaat (HR. Bukhari & Muslim).

10. Shalat Tasbih

Shalat sunnah khusus yang di dalamnya mengandung pembacaan kalimat tasbih sebanyak 300 kali, disebarkan pada setiap gerakan shalat.

  • Lafaz Niat: أُصَلِّي سُنَّةَ التَّسْبِيْحِ رَكْعَتَيْنِ / أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ لِلَّهِ تَعَالَى
  • Dasar Hukum: Hadits riwayat Abu Dawud dari Ibnu Abbas mengenai pengajaran shalat tasbih dari Rasulullah SAW kepada pamannya, Abbas bin Abdul Muthalib.

11. Shalat Gerhana (Kusuf & Khusuf)

Shalat sunnah yang didirikan secara berjamaah saat terjadi gerhana matahari (Kusuf) atau gerhana bulan (Khusuf). Karakteristik utamanya adalah memiliki dua kali ruku’ dan dua kali bacaan Al-Fatihah dalam satu rakaat.


Tabel Ringkasan Fiqih Waktu Shalat Sunnah

Nama Shalat Waktu Rakaat
Qobliyah Subuh Setelah adzan Subuh s.d iqamah 2 Rakaat
Tahajud Sepertiga malam terakhir 2 - 8 Rakaat
Witir Pasca-Isya s.d fajar Ganjil
Dhuha Naik matahari s.d Istiwa 2 - 8 Rakaat
Hajat/Taubat Kapan saja (di luar waktu makruh) 2 Rakaat

FAQ Seputar Shalat Sunnah

1. Apakah bacaan surat pendek setelah Al-Fatihah memengaruhi keabsahan shalat? Tidak. Surat anjuran (seperti Al-Kafirun dan Al-Ikhlas) merupakan kesunahan demi mengejar kesempurnaan pahala pahala. Jika seseorang hanya membaca Al-Ikhlas pada seluruh rakaat, shalat sunnahnya tetap sah secara hukum fiqih.

2. Kapan saja waktu yang diharamkan (Makruh Tahrim) untuk shalat sunnah? Terdapat 5 waktu terlarang untuk shalat sunnah yang tidak memiliki sebab terdahulu (sunnah mutlak), yaitu: (1) setelah shalat Subuh hingga matahari terbit, (2) saat matahari terbit hingga naik satu tombak, (3) waktu istiwa (tengah hari) kecuali hari Jumat, (4) setelah shalat Ashar hingga menguningnya matahari, dan (5) saat matahari terbenam hingga sempurna tenggelam.


Referensi Utama (Daftar Pustaka Artikel)

  1. Hadits Shahih: HR. Abu Dawud no. 864, An-Nasa’i no. 465, dan Tirmidzi no. 413.
  2. Fiqih Niat: Syaikh Zainuddin al-Malibari, Kitab Fathul Mu’in bi Syarhi Qurratil ‘Ain, Bab Shalat.
  3. Hadits Rawatib: HR. Bukhari no. 1180 & Muslim no. 729 (Versi Ibnu Umar); HR. Muslim no. 728 (Versi Ummu Habibah tentang 12 rakaat).
  4. Keutamaan Fajar: HR. Muslim no. 725.
  5. Surat Qobliyah Subuh: HR. Muslim no. 726.
  6. Definisi Tahajud: Imam An-Nawawi, Kitab Al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab, Jilid 4, Hal. 43.
  7. Perintah Witir: HR. Bukhari no. 998 & Muslim no. 749.
  8. Qunut Witir Ramadhan: Imam An-Nawawi, Kitab Minhaj ath-Thalibin, Bab Shalat Witir.
  9. Batasan Rakaat Dhuha: Syaikh Muhammad al-Khathib al-Syarbini, Kitab Mughni al-Muhtaj, Jilid 1.
  10. Shalat Hajat: HR. Tirmidzi no. 479.
Seberapa puas Anda dengan artikel ini?

Komentar