Memuat konten...

14 Lagu Wajib Nasional Untuk Anak: Warisan Cinta Tanah Air [Part 2]

14 Lagu Wajib Nasional Untuk Anak: Warisan Cinta Tanah Air [Part 2]

Daftar Isi

Lagu Semangat & Juang Pembentuk Mental Baja Anak

Setelah cinta tanah air, anak juga perlu semangat juang. Lagu-lagu di kategori ini lahir dari masa perjuangan dan ditujukan untuk membakar semangat generasi penerus agar memiliki mental yang tangguh dan tidak mudah menyerah.

Baca Juga Info (seni-budaya)

Menguak Kisah Siti Nurbaya: Lebih dari Sekadar Tragedi Cinta dan Kawin Paksa

Mahakarya Sastra yang Menembus Zaman. Roman Siti Nurbaya: Kasih Tak Sampai

5. Maju Tak Gentar

Pencipta : Cornel Simanjuntak (C. Simanjuntak)
Tahun : 1945
Sumber Lirik : Kemendikbudristek

Fakta: Diciptakan oleh seorang komponis pejuang, Cornel Simanjuntak, yang ikut angkat senjata melawan tentara sekutu di Jakarta. Awalnya lagu ini digubah pada tahun 1944 dengan judul “Maju Putera-Puteri Indonesia”, namun setelah proklamasi 1945, liriknya diubah total menjadi lagu perjuangan bersenjata demi membela kemerdekaan Indonesia.
Makna: Mengajarkan anak untuk memiliki keberanian moral yang tinggi, berani membela kebenaran meskipun berada di posisi yang sulit, serta pantang menyerah dalam menghadapi tantangan hidup.

Lirik:

Maju tak gentar membela yang benar
Maju tak gentar, hak kita diserang
Maju serentak mengusir penyerang
Maju serentak tentu kita menang

Refrain:
Bergerak, bergerak, serentak, serentak
Menerkam, menerjang, terjang
Tak gentar, tak gentar, menyerang, menyerang
Majulah, majulah menang!

6. Hari Merdeka (17 Agustus 1945)

Pencipta : H. Mutahar (Husein Mutahar)
Tahun : 1946
Sumber Lirik : Direktorat Jenderal Kebudayaan Kemendikbudristek

Fakta: Lagu ini ditulis pada tahun 1946 ketika H. Mutahar menjadi ajudan Presiden Soekarno di Yogyakarta. Bung Karno meminta Mutahar untuk membuatkan sebuah alunan musik penghormatan (aubade) khusus kemerdekaan. Lagu ini mengiringi momen heroik saat H. Mutahar ditugaskan menyelamatkan bendera pusaka agar tidak disita oleh tentara Belanda saat agresi militer.
Makna: Mengajarkan anak untuk selalu bersyukur atas kemerdekaan yang dinikmati hari ini, menghargai pengorbanan para pahlawan, serta menanamkan komitmen untuk selalu setia menjaga dan membela kedaulatan Indonesia sepanjang hayat.

Lirik:

Tujuh belas Agustus tahun empat lima
Itulah hari kemerdekaan kita
Hari merdeka nusa dan bangsa
Hari lahirnya bangsa Indonesia
Merdeka!

Sekali merdeka tetap merdeka
Selama hayat masih dikandung badan
Kita tetap setia, tetap sedia
Mempertahankan Indonesia
Kita tetap setia, tetap sedia
Membela negara kita.

7. Halo-Halo Bandung

Pencipta : Ismail Marzuki
Tahun : 1946
Sumber Lirik : Kemendikbudristek

Fakta: Terinspirasi langsung dari peristiwa sejarah “Bandung Lautan Api” pada Maret 1946. Ismail Marzuki sempat mengungsi ke Bandung bersama istrinya untuk menghindari tentara sekutu di Jakarta. Ketika para pejuang membakar Kota Bandung bagian selatan demi strategi perang sebelum mereka mundur, Ismail Marzuki menuangkan rasa rindu dan kobaran semangat perjuangan itu ke dalam bait lagu legendaris ini.
Makna: Mencontohkan kepada anak tentang rasa solidaritas, kerelaan berkorban demi kepentingan yang lebih besar, serta menjaga janji perjuangan untuk merebut kembali apa yang menjadi hak milik bangsa.

Lirik:

Halo, halo Bandung, ibu kota Periangan
Halo, halo Bandung, kota kenang-kenangan
Sudah lama beta tidak berjumpa dengan kau
Sekarang telah menjadi lautan api
Mari Bung, rebut kembali!

8. Berkibarlah Benderaku

Pencipta : Ibu Sud (Saridjah Niung) & Joesoef Ronodipoero
Tahun : 1947
Sumber Lirik : Direktorat Jenderal Kebudayaan Kemendikbudristek

Fakta: Lagu ini terinspirasi dari peristiwa nyata yang menegangkan pada masa Agresi Militer Belanda I tahun 1947. Saat itu, pimpinan RRI, Joesoef Ronodipoero, ditodong senjata oleh tentara Belanda dan dipaksa untuk menurunkan Bendera Merah Putih di halaman kantor RRI. Joesoef menolak keras demi menjaga kehormatan simbol negara. Kekaguman Ibu Sud terhadap keteguhan Joesoef inilah yang melahirkan lagu ini.
Makna: Mengajarkan anak tentang nilai kesetiaan, keteguhan prinsip, serta keberanian sipil dalam mempertahankan dan menghormati simbol identitas bangsanya dalam situasi sesulit apa pun.

Lirik:

Berkibarlah benderaku, lambang suci gagah perwira
Di seluruh pantai Indonesia, kau tetap pujaan bangsa
Siapa berani menurunkan engkau, serentak rakyatmu membela
Sang Merah Putih yang perwira, berkibarlah selama-lamanya!

Kami rakyat Indonesia, bersedia setiap masa
Mencurahkan segenap tenaga, supaya kau tetap cemerlang
Tak goyang jiwaku menahan rintangan, tak gentar rakyatmu berkorban
Sang Merah Putih yang perwira, berkibarlah selama-lamanya!

9. Gugur Bunga

Pencipta : Ismail Marzuki
Tahun : 1945
Sumber Lirik : Kemendikbudristek

Fakta: Diciptakan oleh Ismail Marzuki pada akhir tahun 1945 untuk menghormati seluruh para pejuang tanah air yang tewas selama masa perang revolusi fisik mempertahankan kemerdekaan, salah satunya untuk mengenang gugurnya seniman dan prajurit muda, Cornel Simanjuntak.
Makna: Mengajarkan anak tentang rasa empati yang mendalam, kesedihan yang bermartabat atas hilangnya nyawa para pembela bangsa, serta menumbuhkan keyakinan bahwa meskipun pahlawan telah gugur, semangat perjuangan mereka akan selalu lahir kembali di dalam jiwa generasi muda.

Lirik:

Betapa hatiku takkan pilu, telah gugur pahlawanku
Betapa hatiku takkan sedih, hamba ditinggal sendiri
Siapakah kini pelipur lara, nan setia dan perwira
Siapakah kini pahlawan hati, pembela bangsa sejati

Refrain:
Telah gugur pahlawanku, tunai sudah janji bakti
Gugur satu tumbuh seribu, tanah air jaya sakti
Gugur bungaku di bakti pertiwi, harum semerbak menambahkan sari
Tanah air jaya sakti.


Referensi Sumber Akurat:

  1. Maju Tak Gentar & Gugur Bunga: Catatan Dokumentasi Komponis Pejuang, Direktorat Sejarah, Kemendikbudristek RI.
  2. Hari Merdeka: Sejarah Kemerdekaan RI & Biografi H. Mutahar (Bapak Paskibraka), Kementerian Pemuda dan Olahraga RI.
  3. Halo-Halo Bandung: Monumen Perjuangan Bandung Lautan Api, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bandung.
  4. Berkibarlah Benderaku: Sejarah Penyiaran Sejak Kemerdekaan & Profil Joesoef Ronodipoero, RRI Jakarta.

Lanjut ke Part 3

Di [Part 3] penutup, kita bahas 5 lagu “Karakter & Moral” untuk membentuk akhlak dan adab anak.

Seberapa puas Anda dengan artikel ini?

Komentar